Lompat ke isi utama

Berita

“Rahmat Djakaria Ubah P2P Jadi Lebih Seru: Belajar Pengawasan Lewat Simulasi, Bukan Sekadar Teori”

Foto

Kasek Bawaslu Pohuwato, Rahmat A. Djakaria, saat menggagas pendekatan pembelajaran berbasis andragogi dengan metode simulasi dalam kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P). Gagasan tersebut disampaikan dalam rapat panitia dan fasilitator P2P yang berlangsung di ruang rapat kantor Bawaslu Pohuwato, Senin (18/05/2026).

Marisa - Kepala Sekretariat Bawaslu Pohuwato, Rahmat A. Djakaria, menggagas pendekatan pembelajaran berbasis andragogi dengan metode simulasi dalam kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P). Gagasan tersebut disampaikan dalam rapat panitia dan fasilitator P2P yang berlangsung di ruang rapat kantor setempat, Senin (18/05/2026).

Langkah ini diambil untuk memaksimalkan efektivitas pelaksanaan P2P, mengingat peserta kegiatan berasal dari latar belakang yang beragam, termasuk kalangan penyandang disabilitas, pemilih pemula, serta masyarakat umum. Pendekatan andragogi dinilai lebih tepat karena menitikberatkan pada pengalaman dan partisipasi aktif peserta dalam proses pembelajaran.

“Kegiatan P2P ini tidak bisa lagi menggunakan pendekatan konvensional. Kita perlu metode yang lebih adaptif, salah satunya melalui andragogi dan simulasi, agar peserta lebih mudah memahami peran pengawasan,” ujar Rahmat dalam rapat tersebut.

Ia menjelaskan, metode simulasi memungkinkan peserta untuk terlibat langsung dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata di lapangan, sehingga materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. “Dengan simulasi, peserta bisa langsung mempraktikkan bagaimana melakukan pengawasan partisipatif dalam berbagai situasi,” tambahnya.

Rahmat juga menekankan pentingnya inklusivitas dalam kegiatan P2P. Menurutnya, keberagaman peserta menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam pengawasan pemilu. “Peserta kita berasal dari berbagai latar belakang, termasuk disabilitas dan pemilih pemula. Maka metode pembelajaran harus benar-benar ramah dan mudah dipahami oleh semua,” tegasnya.

Melalui inovasi ini, Bawaslu Pohuwato berharap kegiatan P2P dapat berjalan lebih efektif dan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu secara aktif, kritis, dan bertanggung jawab.